Latar belakang
Masyarakat kita sampai sekarang masih berada dalam cengkraman kepanikan
akibat pendemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Namun, di tengah kepanikan kita
bersama, pemerintah hadir untuk memberikan semacam obat penenang, kabar
gembira yaitu vaksin sudah ada dan semua masyarakat akan divaksin.
Apalagi kita sudah mendengar pengakuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengatakan bahwa vaksin Covid-19 buatan Sinovac sangat halal dan suci. Bukankah ini kabar baik bagi kita semua yang sudah lama menunggu vaksin Covid-19?
Kabar baik tidak berhenti di situ. Hal yang paling menggembirakan adalah vaksin tersebut akan diberikan secara gratis kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Oleh karena itu, keberadaan Vaksin Covid-19 memberikan harapan besar kepada seluruh masyarakat untuk segera keluar dari lingkaran kepanikan akibat pandemi ini.
Menurut harian KOMPAS, kegiatan vaksinasi massal akan dimulai pada Rabu, 13 Januari 2020. Upaya ini sebagai upaya pengendalian penyebaran pandemi Covid-19. Dan Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang divaksinasi.
Tak bisa dipungkiri, jika kabar kedatangan vaksin Covid-19 pertama kali di Indonesia hingga sampai pada pendistribusiannya nanti merupakan kabar baik dan membahagiakan bagi seluruh masyarakat tanah air. Kegembiraan dan kebahagiaan itu bukan tanpa alasan. Kegembiraan dan kebahagiaan muncul karena dalam waktu dekat masyarakat kita akan segera terbebas dari bayang-bayang ketakutan itu disebabkan oleh penyakit tak kasat mata ini. Basis komunitasnya adalah vaksin Covid-19 sudah ada.
Saya menduga bahwa di benak masyarakat kita saat ini vaksin adalah segalanya. Artinya setelah divaksinasi, masyarakat akan kembali beraktivitas seperti biasa. Jangan pakai masker, jangan cuci tangan, dan abaikan social distancing. Di sinilah persisnya masalah kita bersama.
Menurut saya, kabar baik kedatangan vaksin Covid-19 hingga vaksinasi massal seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, kabar tersebut membuat masyarakat sedikit tenang karena vaksin untuk mencegah pandemi sudah ada. Namun di sisi lain, keberadaan vaksin Covid-19 bisa meninabobokan masyarakat. Masyarakat kemudian mengabaikan semua protokol kesehatan yang menjadi senjata kita selama ini dalam memerangi Covid-19.
Masalahnya kemudian menjadi lebih kompleks ketika orang berpikir bahwa vaksin Covid-19 adalah obatnya. Masyarakat kemudian tidak mematuhi semua aturan protokol kesehatan. Jaga jarak dilanggar. Keluar rumah tanpa menggunakan masker. Tidak mencuci tangan setelah bepergian, dll. Basis utama masyarakat adalah vaksin Covid-19 telah tiba. Kita semua akan divaksinasi. Kita bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Pendahuluan
Vaksin bukan obat. Pemerintah melalui Satgas Covid-19 menghimbau bahwa vaksin tidak bisa disebut sebagai obat. Vaksin hanya bersifat preventif atau pencegahan. Dia tidak bisa disebut sebagai obat suatu penyakit. Vaksin Covid-19 berguna untuk mendorong pembentukan kekebalan tubuh agar setidaknya bisa terhindar dari penularan Covid-19.
Vaksin dibuat untuk memberikan kita imunitas terhadap suatu penyakit tanpa harus terkena penyakit tersebut terlebih dahulu. Ketika menerima dosis vaksin, normal untuk mendapatkan beberapa efek samping ringan setelahnya.Mengalami beberapa efek samping ringan berarti imun sistem Anda bereaksi atas vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh Anda.
Vaksin bekerja dengan memasukkan virus yang dilemahkan atau memasukan materi genetik dari virus Covid-19 agar tubuh mengenali materi ini jika masuk ke dalam tubuh tanpa menyebabkan sakit seperti infeksi Covid-19 pada umumnya.
Jika tubuh mengalami efek samping ringan sampai sedang seperti nyeri otot, demam, dan menggigil, ini adalah proses yang normal. Ini merupakan tanda bahwa sistem imun tubuh sedang bekerja dan bereaksi pada vaksin yang telah dimasukkan ke dalam tubuh.
Efek samping setelah vaksin akan segera hilang beberapa hari setelah vaksin. Namun, jika Anda vaksin dan tidak terjadi efek samping apapun, bukan berarti tubuh tidak merespon vaksinnya. Setiap orang memiliki respon imun yang berbeda-beda sehingga bisa menimbulkan efek samping yang beragam.
Analisis
Menanggapi perubahan terhadap kehidupan yang dijalaninya di masa pandemi, manusia tidak selalu bisa dengan cepat menyesuaikan. Beberapa manusia tidak bisa menghadapi krisis yang dialami dalam masa pandemi hingga menimbulkan pengalaman tertekan dalam batin-nya.
Tekanan dalam batin ini bisa disebabkan oleh berbagai macam hal seperti misalnya ditinggal untuk selamanya oleh orang yang dikasihi, diputus dari pekerjaannya, mengalami penyakit fisik, kebosanan beraktivitas di dalam rumah, dsb. Bagi mereka yang tidak bisa mengolah hidupnya dengan baik, bisa jadi akan merasa kesulitan untuk mencari kebahagiaan di masa pandemi.dikarenakannya berita yang beredar tidak mampu memfilterisasi yang dijadikan mindset.
Kesimpulan
Untuk mencapai kebahagiaan yang sejati, Konfusius mengajarkan kepada kita mengenai pentingnya belajar dan mengasah moral supaya dapat mengenal jalan hidup. Di tengah pandemi, manusia tidak boleh berhenti untuk menimba pelajaran melalui situasi yang dialaminya.
Kemudian, kemanusiaan menjadi hal utama yang harus diperhatikan dalam masa pandemi untuk menjaga harmoni. Kesetiaan menjaga kesehatan, kebersihan diri sendiri dan kesetiaan menjalankan protokol kesehatan bisa mengurangi resiko orang- orang lain terlebih lansia yang rentan terhadap penularan. Hal ini hanya bisa terwujud apabila seseorang memegang dengan teguh tata-krama/etiket dalam masa pandemi ini.
Penulis : Wawan Agung
Daftar Pustaka
-https://www.kompas.com/sains/read/2021/06/20/080500823/kenapa-vaksin-covid-19-menyebabkan-efek-samping-begini-kata-ahli
-Literasi tentang filsuf cina soal kebahagian dalam tantangan
insightful. let's we expand the vaccine campaign to the grassroot!
BalasHapus🔥🔥🔥
BalasHapusVaksin = Renovasi Mindset
BalasHapus