Langsung ke konten utama

STRATEGI PENGEMBANGAN PMII DENGAN METODE ASWAJA MANHAJ AL-FIKR

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang sering disebut PMII ialah wadah bagi mahasisiwa untuk berkembang dan menciptakan para pemikir-pemikir yang selalu menjunjung tinggi keadilan baik bagi orang lain atau dirinya sendiri. Awal berdirinya PMII pada 17 April 1960, yang mana tahun itu PMII ikut andil dalam sejarah politik, sosial, dan pendidikan di Indonesia. Dan pada awal terbentuknya PMII, para pemuda PMII saat itu berhasil berperan sangat penting di kalangan Mahasiswa, Dimana PMII mulai menunjukan gerakan-gerakan Politik maupun social yang sangat cepat dan sangat berpengaruh. Hal ini di usia yang baru beranjak satu tahun, PMII sudah menjadi anggota forum sedunia di Moskow (Contittuente Metting Forthe Youth Forume). Dan  pada  tahun-tahun berikutnya PMII memimpin Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), juga berpartisipasi dalam pembentukan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan bergabung dengan Cipayung serta berbagai gerakan gerakan berpengaruh lainnya.

Dalam bidang ilmu bidang keislaman sendiri, PMII tidak menjadikan pemikiran-pemikiran para pembaharu islam seperti salah satunya Jamaludin al-Afghani sebagai landasan studi keagamaan. Akan tetapi, PMII sendiri menjadikan pemikiran-pemikiran islam pembebasan sebagai salah satunya seperti Muhammad Arkoun sebagai acuan diskusi keislaman itu sendiri dengan tidak meninggalkan tradisi keislaman di pesantren yang menekankan aspek fiqih dan tasawwuf.

Sebagaimana yang kita tahu bahwa organisasi PMII mempunyai hubungan keislaman, Maka perlu adanya landasan, dimana PMII memiiki landasan ASWAJA “ahlussunnah wal jamaah” sebagai    landasan Teologis,  sedangkan Manhaj Al-fikr ini sebagai ciri metode berpikir PMII. Landasan Teologis berupa nilai-nilai, cita-cita, tradisi, ideologi, dan akidah islam sedangkan Manhaj Al-fikr yang berpegang pada prinsip-prinsip tawasut (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan), dan tasamuh (toleran). Dengan ini PMII telah mengimplementasikan landasan teologis dan metodologis aswaja ke dalam sebuah pemikiran dan gerakannya.

Aswaja Secara bahasa, “Al-Sunnah” berarti metode, kebiasaan, perjalanan hidup, atau perilaku, baik yang terpuji ataupun yang tercela, sedangkan kata al-Jama’ah berasal dari kata “al-Ijtima’” yang berarti berkumpul atau bersatu. Al-Jama’ah berlawanan dengan kata Al-Firqoh yang berarti berpecah-belah. Jika kedua kata ini digabung “Ahlussunnah wal Jamaah”, maka yang dimaksud adalah para pendahulu umat islam. Mereka adalah para sahabat dan tabi’in yang bersatu mengikuti kebenaran yang jelas dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Apa yang dilakukan rasul, sahabat, Ttabi’in, dan setiap orang yang datang sesudah mereka dengan menempuh jalan serta mengikuti jejak mereka, maka termasuk ke dalam kelompok Ahlussunnah wal Jamaah

Sebagaimana yang sudah diketahui, PMII telah hadir di berbagai penjuru kampus khususnya kampus-kampus islam seperti UIN, IAIN, STAI, dan STAIN. Akan tetapi bagaimana PMII hadir di kampus-kampus umum yang mana notabenenya banyak sekali perbedaan seperti budaya, kultur, bahasa, dan agama? lalu bagaimana dengan pembawaan budaya yang sedemikian rupa PMII dapat berkembang di kampus umum?.

Disini bisa dilihat bahwa PMII telah hadir dalam kampus umum seperti dikampus yang sedang penulis jalani saat ini yaitu dikampus Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya), dimana penulis melihat PMII hadir dikampus dengan memakai metode manhaj al-fikr yang memegang prinsip-prinsip tawasut (moderat), tawazun (netral), ta’adul (keseimbangan),  dan tasamuh (toleran). dengan  memakai metode ini PMII dapat di terima di kampus PMII Ubhara Jaya sehingga mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya serta dapat berkembang sesuai konteks situasi yang ada di kampus dan masyarakat di zaman modern ini.

Dalam Manhaj al-fikr juga sudah dijelaskan dengan prinsip-prinsipnya, yang pertama tawasuth (moderat) dimana tentang penjelasan dari moderat disini ialah tentang bagaimana para kader PMII Ubhara jaya mampu melihat sesuatu secara seimbang dan logis, maka dengan memiliki kemampuan moderat para kader PMII ubhara jaya mempunyai pandangan yang banyak tidak dari satu sisi namun dari berbagai macam sisi, contohnya ketika ada suatu konfilk didalam kampus dan itu melibatkan dari salah satu kader PMII ubhara jaya. Dengan prinsip tawasuth, para kader mampu memecahkan persoalan dengan mengambil keputusan yang tepat serta bijak, berpikir rasional, bersikap adil, dan menjadi penengah di dalam konflik.

Kedua, ada tawazun (netral), netral disni ialah sebuah prinsip istiqomah dalam membawa nilai-nilai tanpa intervensi kekuatan manapun, serta mengambil jalan tengah sebagai keputusan. Ketika para kader PMII memiliki keberpihakan tanpa pertimbangan yang matang, maka bisa dipastikan bahwa kader PMII akan mudah terintervensi serta mudah dipecah-belah. Maka dari itu adanya tawazun membantu kader PMII untuk selalu mencari jalan tengah guna menciptakan resolusi konflik sehingga PMII tidak mudah digoyahkan dan tidak jauh dari moderat yang berarti tidak menjadi manusia yang berat sebelah.

Ketiga yakni ta’adl (keseimbangan) dimana keseimbangan bisa diartikan dengan bagaimana menempatkan segala sesuatu dalam porsinya sehingga terciptanya keadilan terutama bagi dirinya sendiri, karena ketika para kader PMII memahami arti dari keseimbangan maka bisa dipastikan para kader PMII mampu menyeimbangkan dirinya dimana dia berada dan memposisikan siapa dirinya, sehingga para kader PMII mampu meredam keegoisan di dalam dirinya dan mampu menyelesaikan permasalahan dengan adil dan bijaksana. Yang terakhir yakni tasamuh (toleransi), yakni sebuah prinsip keterbukaan dalam menerima perbedaan. Sikap toleransi ini adalah membebaskan dan melepaskan diri atau golongan dari sifat egoistik dan sentimen pribadi maupun kelompok. Prinsip ini mengajarkan kita untuk bersikap toleran, baik dari  ras, suku, agama, budaya, dan gender.

Oleh karena itu, penulis mengambil kesimpulan bahwa empat prinsip Aswaja sebagai kerangka berpikir ini merupakan solusi konkrit untuk menjawab berbagai persoalan-persoalan di zaman saat ini yang cenderung sangat kompleks. Dengan kerangka berpikir seperti ini, maka problem-problem yang berkembang masa kini sangat mungkin menemukan solusinya. Empat prinsip tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Nabi, dan justru merupakan prinsip-prinsip dasar universalitas ajaran Islam sebagai agama rahmat di alam ini (Rahmatan lil ‘Alamin).

Dengan demikian, ajaran aswaja yang berlandaskan teologis dan menggunakan metode manhaj al-fikr, PMII akan mudah di terima oleh kampus umum yang memang kita ketahui sangat berbeda sekali dengan kampus-kampus islam seperti UIN, IAIN, STAI dan STAIN yang cenderung lebih memahami dengan mudah apa itu aswaja. Namun, dengan metode manhaj al-fikr, PMII mampu beradaptasi pada kampus umum yang minim dengan diskursus keislaman.

Penulis: Galih Adam Saputra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGAPA KITA SULIT BAHAGIA?

Sedari kecil kita di ajarkan untuk selalu bersaha untuk menggapai cita-cita supaya kelak di kehidupan yang akan datang kita bisa memperoleh kebahagiaan. Tapi mengapa sampai saat ini kita belum mengerti apa itu kebahagiaan?, kita masih di sibukan dengan membandingkan diri dengan orang lain walaupun itu baik ketika di jadikan sumber motivasi tapi itu juga tidak jarang membuat kita menjadi depresi. Karena standar-standar itu pula kita jadi sulit menemukan arti sesungguhnnya dari kebahagiaan, semakin kabur dan semakin sulit untuk di raih maka dari itu di perlukannya pengertian akan kebahagiaan itu sendiri dan juga harus sadar akan standar-standar apa saja yang membelanggu diri. Mengingat standar-standar yang ada pada masyarakat tentang kesuksesan, kebahagiaan dan kesejahtraan malah membuat kita makin sulit menentukan apa kebahagiaan itu sebenarnya, dan yang lebih extrem lagi apakah hidup ini hanya sebatas mencari sesuatu yang bersifat materi saja? Atau ada yang lain? Menurut Aristo...

MELUNTURNYA KARAKTER KEINDONESIAAN PASCA REFORMASI

Lama kelamaan pendidikan kita berubah fungsi yang harusnya bisa mendidik manusia supaya bisa memilik karakter yang baik dan menjadikan manusia seorang insan yang bertaqwa, berbudi luruh, cakap serta bisa mempertanggungjawabkan keilmuanya. Sayangnya sekarang pendidikan hanya menjadi lemaga khusus yang hanya memberikan pengetahuan lewat buku saja. Ketika pendidikan berubah fungsi maka sekolah sekolahpun sudah banyak yang tidak mengajarkan keIndonesiaan, contoh kecilnya masih ada saja anak SMP yang tidak tahu apa itu pancasila. Kalau pancasila saja tidak hafal bagai mana dia bisa mengerti, kalau sudah tidak mengerti bagai mana bisa mengamalkanya?.             Pada tanggal 1 juni 2011 yang lalu presiden ke 3 Indonesia BJ. Habibie pernah berpidato dalam rangka memperingati hari kesaktian pancasila, yang isi pidatonya menyebutkan bahwa ada 3 faktor penyebab lunturnya pancasila dalam kehidupan sehari hari. 1. Terjadinya proses global...