Langsung ke konten utama

MELUNTURNYA KARAKTER KEINDONESIAAN PASCA REFORMASI

Lama kelamaan pendidikan kita berubah fungsi yang harusnya bisa mendidik manusia supaya bisa memilik karakter yang baik dan menjadikan manusia seorang insan yang bertaqwa, berbudi luruh, cakap serta bisa mempertanggungjawabkan keilmuanya. Sayangnya sekarang pendidikan hanya menjadi lemaga khusus yang hanya memberikan pengetahuan lewat buku saja. Ketika pendidikan berubah fungsi maka sekolah sekolahpun sudah banyak yang tidak mengajarkan keIndonesiaan, contoh kecilnya masih ada saja anak SMP yang tidak tahu apa itu pancasila. Kalau pancasila saja tidak hafal bagai mana dia bisa mengerti, kalau sudah tidak mengerti bagai mana bisa mengamalkanya?.

            Pada tanggal 1 juni 2011 yang lalu presiden ke 3 Indonesia BJ. Habibie pernah berpidato dalam rangka memperingati hari kesaktian pancasila, yang isi pidatonya menyebutkan bahwa ada 3 faktor penyebab lunturnya pancasila dalam kehidupan sehari hari.

1. Terjadinya proses globalisasi dalam segala aspeknya.

2. Perkembangan gagasan hak asasi manusia (HAM) tidak di imbangi dengan kewajiban asasi manusia (KAM).

3. Lonjakan pemanfaatan teknologi informasi oleh masyarakat, di mana informasi menjadi kekuatan yang amat berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan, tapi juga rentan terhadap “manipulasi” informasi dengan segala dampaknya.

            Ketiga hal tersebut yang mendorong terjadinya pergeseran nilai yang di alami oleh bangsa Indonesia, yang mana itu juga di pengaruhi oleh kehidupan berpolitik dan ekonomi pada saat ini. Yang harusnya berperan untuk mengkokohkan nilai-nilai ke-Indonesiaan yang paling pertama adalah pendidikan, tapi sayangnya pendidikan yang ada setelah reformasi malah menjadikan pendidikan itu seperti tangga menuju kerja saja padahal pendidikan harusnya memiliki orientasi yang lebih luas tidak hanya pada satu orientasi saja.

            Ketika pendidikan tidak menerapkan nilai-nilai keindonesiaan maka secara kolektif masyarakat lambat laun akan kehilangan arah. Contohnya banyak yang ketimur-timuran dan keamerika-amerikaan dan yang baru lagi adalah kekorea-koreaan, yang mana ini mencerminkan tidak jelasnya arah bangsa yang dapat menyebabkan tidak mengenal mana kawan mana lawan.

            Dari penjelasan di atas bisa mengakibatkan penjajahan secara ekonomi, budaya dan moral. Kita ambil contoh kecil setiap jasa atau barang yang di beri label asing di anggap barang/jasa yang sangat baru dan sangat bagus. Padahal kita juga memiliki wayang dan batik yang mana ketika wayang di jadikan media pembelajaran dan di sentuh oleh teknologi tidak akan kalah bagusnya dengan barang/jasa asing.

            Wajarlah ketika masayarakat Indonesia menjadi masyarakat yang kagetan, karena itu dampak dari terkikisnya jati diri bangsa kita. Padahal kalau saja pendidikan di Indonesia mau membedah bagimana sistem manajemen kerajaan-kerajaan yang ada di indonesia itu bisa memperkuat identitas kita sebagai bangsa yang memiliki masyarakat multikultural.

            Hilangnya keIndonesiaan dari hati manusia Indonesia juga membuat bangsa lain semena-mena pada Indonesia. Sangat masuk akal, karena dalam psikologi ada satu teori yang yang mana teori itu adalah personal power yang di kemukakan oleh French dan Rave. Orang akan berwibawa ketika orang itu tau tujuanya, dan juga berjuang untuk mencapai tujuanya yang menyebabkan orang tersebut memiliki karakter yang kuat. Begitu pula suatu bangsa bisa di segani ketika bangsa itu tau arah dan tujuanya dan juga bersungguh sungguh untuk menggapai tujuanya.

             Beruntunglah bangsa ini masih memiliki sekumpulan orang-orang yang berkomitmen memperjuangkan tujuan dan cita-cita kemerdekaan Indonesia melalui organisasi. Kita ambil contoh perkumpulan orang yang masih memperjuangkan cita-cita  kemerdekaan indoneisa adalah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Karena termaktub dalam AD PMII BAB IV pasal 4 tujuan PMII adalah “Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab mengamalkan ilmunya serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.

Yang mana ini menjadi relevan untuk mempertahankan karakter kuat bangsa Indonesia, tapi kesadaran dari sedikit kelompok saja tidak akan membuat dampak yang signifikan, maka dari itu kesadaran secara masal perlu terus di gaungkan supaya bangsa ini tidak kehilangan arah dan identitasnya.

            Pada sebuah acara Dr. Masdar Mas’udi salah satu ketua PBNU pernah berdialog dengan Soegeng Sarjadi Syndicate. Menyebutkan bahwa lahirnya pancasila yang merupakan pemersatu keragaman agama, budaya, suku, bahasa dan lain lain di Nusanta ini merupakan hidayah dari  Allah untuk masyarakat Indonesia. Menurut Mentri Agama Yaqut Cholil yang di kutip dari kompas.com proporsi penduduk muslim indoneisa sebesar 87,2% yang mana walaupun muslim menjadi mayoritas umat bergama tetapi kita tidak memilih untuk mendirikan negara islam, walaupun agama sangat penting untuk kehidupan tapi kita tidak memilih negara agama.

            Sebelum lahrinya pancasila, berbagai daerah di negeri ini punya banyak kreasi unggulan, yaitu batik yang ada sejak zaman majapahit kemudian menyebar ke hampir seluruh Nusantara. Batik bukan hanya karya biasa teteapi batik juga memiliki filosofi yang mencerminkan keadaan si pembuatnya dan mencerminkan kondisi masyarakat pada kala itu.

            Batik juga ketika di buat memperlukan kreativitas yang sangat tinggi, hasil dari kolaborasi otak kanan dan otak kiri yang memberlukan analilis, imajinasi, kesabaran serta logika. Orang yang tidak sabar dan tidak teliti akan gagal menghasilkan kresasi batik walau dia pintar.

            Dan dalam batik juga adalah lambang dari sikap pluralis dan harmonis masyarakatnya. Batik juga menggambarkan bahwa bangsa kita punya kemampuan mengolah berbagai kemampuan dalam diri seseorang. Wajarlah jika seorang tokoh perdamaian seperti Nelson Mandela menggunakan batik sebagai baju kebesarnya.

            Hindu di Indonesia akan berbeda dengan Hindu di India. Islam di Arab akan berbeda pula dengan Islam di Indonesia dan begitu juga Kristen di Portugis akan berbeda pula dengan Kristen di sini. Ini semua terjadi karena masayarakat terdahulu mengolah suatu perbedaan menjadi keragaman yang sangat harmonis.

            Secara umum ketika kita memahami apa itu pancasila apapun kepercayaan yang kita pilih bisa di sebut moderat yang artinya tidak ekstreme kekanan atau kekiri, Contoh lunturnya keIndonesiaan adalah ketika Jihad fi sabilillah adalah ngebom atau merampok (termasuk merampok uang rakyat).

            Dari banyaknya ajaran dan doktrin yang ekstrem tentang penolakan pancasila atau tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya. Masyarakat kita memiliki sistem seleksi sosial yang alami dalam tatanan sosial kita. Tatanan sosial kita memiliki penyaringan yang sangat ketat sehingga menjadi jelas mana yang boleh di lakukan dan mana juga yang hanya boleh di pahami. Ini karena adanya kekuatan dari keindoensiaan itu sendiri, banyangkan ketika keIndonesiaan itu luntur maka akan menjadikan kekacauan dalam struktur sosial.

            Tetapi apa yang kita saksikan setelah 23 tahun reformasi?. Yang kita saksikan setelah masa reformasi aset sosial yang menjadi karakteristik postif bagi bangsa ini agaknya mulai terkikis, karena setelah reformasi banyak pengeboman dan kerusuhan di mana-mana yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. yang mana ini mencerminkan mulai memudarnya pemahaman tentang keindoensiaan.

            Selain itu ketika pemahaman tentang keIndonesiaan memudar kita bakalan kehilangan seleksi sosial yang sangat ketat yang mampu menahan pemahaman sebuah doktrin yang bertentangan, contohnya pengeboman, kerusuhan, perampokan. Selain itu kita juga bisa terkena apatis sosial yang di cirikan dengan tidak akrabnya warga dengan samping rumahnya sendiri, ini bisa kita temui dengan mudah di sekitar kita, atau mungkin kita yang mengalami hal tersebut.

            Salah satu buktinya adalah ketika densus 88 mencari ketua teroris asal Malaysia yaitu Dr. Azhari dan Noordin M. Top beserta seluruh jaringanya. Ternyata Noordin tinggal di sebuah kontrakan di kampung-kampung dengan memalsukan identitasnya dan bisa hidup seperti orang normal padahal iya adalah buron teroris.

            Pertanyaanya kenapa dia bisa hidup seperti orang normal?. Salah satu penyebabnya adanya pelapukan ikatan sosial dalam masyarakat. Ini tidak hanya terjadi di masyarakat perkotaan tapi ini sudah hampir terjadi ke mana-mana. Orang mulai terbiasa untuk tidak mengetahui apa yang di lakukan tetangga, masa bodo dengan aktivitas orang lain,  yang lebih parahanya tidak peduli dengan isu-isu keamanan yang di angkat oleh kepolisisan. Padahal kita memiliki peran penting untuk mengawal isu-isu tersebut untuk kemanan bersama.

            Masyarakat menajdi apatis karena bayak kemungkinan salah satunya tingkat stres yang tinggi menyebabkan keapatisan muncul. Harga yang terus naik menyebabkan stres pada masyarakat, akhirnya masayarakat berfikir untuk mementingkan dirinya terlebih dahulu daripada orang lain. Karena ketika masyarakat bingung dengan dirinya sendiri bagai mana bisa dia memikirkan orang lain?.

            Amarah masyarakat yang di sebabkan ketidak pastian politik, ekonomi, kekecewaan pada pemerintah, Harga makin meroket, pemerintah semakin otoriter, kesehatan yang sering terbengkalai dapat menyebabkan masyarakat menjadi dingin, tidak peduli dan tidak mudah percaya karena amarah atau kecewa.

            Apatisme timbul  dari filsafat hidup yang di pedomani oleh masayarakat. Apabila masayarat tidak pernah di asah hatinya, pemikiranya, dan rasa sosialnya maka sangat mungkin masyarakat mulai tidak memikirkan kemaslahatan publik. Dan gelombang reformasi sangat berpengaruh pada terkikisnya filsafat hidup yang menjunjung tinggi kepedulian terhadap orang lain dan ini bersumber dari hilangnya rasa dalam diri setiap masyarakat tentang keIndonesiaan.

            Dengan terdegradasinya aset sosial yang sangat penting berupa cara seleksi yang ketat seperti yang sudah di jelaskan di atas akhirnya masayrakat gampang di giring dengan opini-opini liar dan juga gampang tergiring menuju tindakan tindakan yang agresif.

            Sampai pada titik yang paling ekstrim masyarakat mulai kehilangan naluri untuk berdialog yang sering muncul adalah naluri untuk berdebat dengan tensi emosi yang meledak ledak. Ini sangat mudah kita lihat di jalan raya, ketika ada sedikit saja senggolah antara motor dan mobil yang sering terjadi adalah pertikaian, sangat jarang kita melihat dua pengendara yang mengalamai insiden itu saling meminta maaf dan berdialog untuk mencari solusi terbaiik.

            Malah yang sering kita lihat saat kejadian tersebut selalu berdebat siapa yang benar dan siapa yang salah, dan yang lebih parahnya kita tak jarang menemukan keributan di jalan raya karena masalah sepele.

Adapun perbedaan berdebat dan berdialog adalah

DEBAT

DIALOG

·         Kita beranggapan kita yang benar

·         Kita beranggapan bahwa semua orang punya kebenaran atau punya sebagian kebenaran

·         Kita memposisikan orang lain sebagai lawan

·         Kita memposisikan orang lain sebagai mitra untuk menciptakan kesepahaman

·         Kita mendengarkan pendapat orang lain untuk mengetahui sisi mana yang bisa kita patahkan

·         Kita mendengarkan orang lain untuk memahami atau mencapai kesepakatan

·         Kita mempertahankan opini kita sebagai kebenaranmutlah

·         Kita menyatakan opini untuk di evalusi atau di sempurnakan

 

                                                                          

            Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa terkikisnya kesadaran keIndonesiaan dapat membawa banyak dampak negatif  seperti apatis, anarkis dam agresif yang mana bisa menyebabkan pelemahan ekonomi, kenyamanan hidup di Indonesia yang ekstremnya dapat mengganggu eksistensi Indonesia itu sendiri di mata internasional, dengan demikian kita yang memiliki kesadaran keIndoensiaan di harapakan bisa menjadi pintu masuk untuk Indonesia yang lebih berdaulat adil dan makmur.

 

Wallahul Muwafieq Ilaa Aqwamith Tharieq.

Wassalamualaikum Warahamatulla Wabarakatuh

Penulis : Muhamad Septiar

Referensi

https://youtu.be/Gd7zRNgN66E

https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2021/03/13/11584391/menag-sebut-mayoritas-muslim-indonesia-setuju-dengan-pancasila

Hasanuddin, H., Ismawaty, A., & Syarkawi, M. (2020). Pengaruh Personal Power Dan Legitimate Power Terhadap Kinerja Pegawai. Jurnal Ilmiah Pranata Edu, 2(1), 24–32. https://doi.org/10.36090/jipe.v2i1.767

Ratrioso imam. (2015). RAKYAT NGGAK JELAS. renebook.

        Trixie, A. A. (2020). Filosofi Motif Batik Sebagai Identitas Bangsa Indonesia. Folio, Vol 1 No 1, 1–9. https://journal.uc.ac.id/index.php/FOLIO/article/view/1380

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

STRATEGI PENGEMBANGAN PMII DENGAN METODE ASWAJA MANHAJ AL-FIKR

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau yang sering disebut PMII ialah wadah bagi mahasisiwa untuk berkembang dan menciptakan para pemikir-pemikir yang selalu menjunjung tinggi keadilan baik bagi orang lain atau dirinya sendiri. Awal berdirinya PMII pada 17 April 1960, yang mana tahun itu PMII ikut andil dalam sejarah politik, sosial, dan pendidikan di Indonesia. Dan pada awal terbentuknya PMII, para pemuda PMII saat itu berhasil berperan sangat penting di kalangan Mahasiswa, Dimana PMII mulai menunjukan gerakan-gerakan Politik maupun social yang sangat cepat dan sangat berpengaruh. Hal ini di usia yang baru beranjak satu tahun, PMII sudah menjadi anggota forum sedunia di Moskow (Contittuente Metting Forthe Youth Forume). Dan  pada  tahun-tahun berikutnya PMII memimpin Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), juga berpartisipasi dalam pembentukan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), dan bergabung dengan Cipayung serta berbagai ger...

MENGAPA KITA SULIT BAHAGIA?

Sedari kecil kita di ajarkan untuk selalu bersaha untuk menggapai cita-cita supaya kelak di kehidupan yang akan datang kita bisa memperoleh kebahagiaan. Tapi mengapa sampai saat ini kita belum mengerti apa itu kebahagiaan?, kita masih di sibukan dengan membandingkan diri dengan orang lain walaupun itu baik ketika di jadikan sumber motivasi tapi itu juga tidak jarang membuat kita menjadi depresi. Karena standar-standar itu pula kita jadi sulit menemukan arti sesungguhnnya dari kebahagiaan, semakin kabur dan semakin sulit untuk di raih maka dari itu di perlukannya pengertian akan kebahagiaan itu sendiri dan juga harus sadar akan standar-standar apa saja yang membelanggu diri. Mengingat standar-standar yang ada pada masyarakat tentang kesuksesan, kebahagiaan dan kesejahtraan malah membuat kita makin sulit menentukan apa kebahagiaan itu sebenarnya, dan yang lebih extrem lagi apakah hidup ini hanya sebatas mencari sesuatu yang bersifat materi saja? Atau ada yang lain? Menurut Aristo...